Welcome @ Anandia Yuska Blog..... Give Me Comment If You Like..... Thank You.....
ANANDIA YUSKA BLOG - KONSULTASI DOKTER SPESIALIS KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN

Sabtu, 17 Januari 2009

Memilih Jenis Kelamin Anak

Anggapan bahwa “ anak laki-laki dan perempuan sama saja “, rupanya masih belum berlaku mutlak. Kenyataannya, dalam sebuah keluarga masih belum lengkap jika semua anaknya lelaki atau perempuan. Keinginan untuk menambah anak dengan alasan demikian masih dapat kita jumpai di mana-mana. Dan bukan tidak mungkin keinginan menambah itu terus berulang karena jenis kelamin anak yang diharapkan tak muncul-muncul, kendati sudah beranak empat atau lima.

Ditambah lagi adat dan budaya masyarakat yang masih membedakan anak berdasarkan jenis kelamin. Misalnya saja pada masyarakat yang menganut paham patrilineal. Anak laki-laki jelas menjadi dambaan karena diharapkan bisa meneruskan garis keturunan. Sebaliknya, masyarakat dengan paham matrilineal, anak perempuanlah yang paling diharapkan kelahirannya.

Yang menyedihkan, seringkali kaum ibulah yang disalahkan jika melahirkan anak yang tidak sesuai dengan harapan. Wanita seperti itu dianggap tidak bisa memberi keturunan yang diharapkan. Tak heran kondisi ini dijadikan alasan oleh para suami untuk mendapatkan istri baru. Dengan satu harapan, memperoleh anak dengan jenis kelamin sesuai keinginan.

Jenis kelamin bayi pada dasarnya dipengaruhi oleh kromosom seks sperma ayah, dan beberapa faktor pendukung lainnya seperti : jenis makanan, kualitas sperma dan kapan saat terjadi pembuahan.

Seperti diketahui kromosom terdapat dalam sperma terdiri dari dua unsur yaitu kromosom X dan kromosom Y. Untuk mendapatkan bayi laki-laki maupun perempuan harus ada pertemuan antara sperma kromosom X atau Y dengan sel telur dari ibu.

Jika sperma berkromosom X bertemu dengan sel telur, akan menghasilkan kromosom XX, karena sel telur tersebut mengandung kromosom X, maka bayi yang akan lahir bayi berjenis kelamin perempuan. Sedang kalau sperma kromosom Y bertemu dengan sel telur, akan menghasilkan individu yang berkromosom XY, sehingga akan lahirlah bayi yang berjenis kelamin laki-laki.

Setelah terjadi pembuahan sperma dengan sel telur yang diikuti dengan tidak terjadi menstruasi si ibu pada bulan berikutnya dan tes kehamilan positif maka sebenarnya telah terbentuk jenis kelamin bayi.

“ Mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan sama saja.” Kata-kata itu sering kita dengar dari pasangan yang sedang menunggu datangnya buah hati. Tapi kadang-kadang dalam hati mereka, ada keinginan yang tak bisa disangkal bahwa mereka punya harapan agar anak yang lahir perempuan atau laki-laki.

Di bawah ini ada beberapa cara yang dapat anda lakukan untuk menentukan jenis kelamin pada calon buah hati Anda, diantaranya:
· JIKA MENGINGINKAN SEORANG BAYI PEREMPUAN :

1. Faktor makanan
Suami harus makan makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium dan magnesium, sedangkan istri banyak makan makanan yang mengandung asam, mineral kalium dan natrium.

2. Faktor waktu (kapan berhubungan)
Lakukan coitus (persetubuhan/senggama) 2–3 hari sebelum ovulasi (masa subur). Dengan demikian, hanya kromosom X yang lebih bertahan lama sampai menunggu sel telur terlepas dari ovarium. Ovulasi adalah saat terlepasnya sel telur dari indung telur dalam rahim.

Bagaimana mengetahui periode masa haid? Pada saat temperatur atau suhu tubuh meningkat. Anda bisa menggunakan alat pengukur suhu tubuh dan mencatatnya sebagai record dan alatnya dapat dibeli di apotek-apotek.

3. Faktor penetrasi
Suami harus menghindari penetrasi terlalu dalam pada saat berhubungan. Sehingga diharapkan sel sperma kromosom X saja yang berkesempatan tetap hidup dan terus berenang menuju sel telur.

4. Faktor Orgasme
Usahakan istri tidak mencapai orgasme selama berhubungan. Secresi cairan yang keluar dari kemaluan wanita akan menjadi alkaline (basa) jika terangsang, hal ini akan mendorong aktifitas spematozoa Y.

5. Faktor persiapan istri
Sebelum coitus, basuh vagina dengan 2 sendok makan larutan white vinegar/cuka yang sudah dicampur dalam 1 liter air bersih. Hal ini dilakukan agar kondisinya menjadi asam sehingga aktifitas spermatozoon Y menurun.

6. Faktor posisi
Disarankan posisi waktu berhubungan adalah yang klasik/berhadapan yaitu, posisi istri di atas suami sehingga sperma tertampung di sekitar mulut rahim.

· JIKA MENGINGINKAN SEORANG BAYI LAKI-LAKI :

1. Faktor makanan
Suami harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam, mineral, dan magnesium. Sedangkan istri harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium dan magnesium (lihat jenis makanan diatas).

2. Faktor waktu (kapan berhubungan)
Waktu berhubungan dilakukan sedekat mungkin dengan ovulasi, sebaiknya tepat pada ovulasi, berkisar antara 12 jam sebelumnya.

3. Faktor penetrasi
Suami disarankan untuk melakukan penetrasi yang dalam pada saat berhubungan, sehingga sebagian besar dari sperma Y langsung masuk ke rahim.

4. Faktor Orgasme
Upayakan istri dapat orgasme lebih awal dari suami atau bersamaan.

5. Faktor persiapan istri
Cuci vagina dengan larutan dari dua sendok soda kue yang sudah dicampur dalam satu liter air bersih, sehingga suasana menjadi basa.

6. Faktor posisi
Posisi suami pada waktu berhubungan berada di atas istri. Hal ini mengikuti sifat dari spermatozoon Y akan cepat menuju sasaran (sel telur).

INSEMINASI BUATAN
Metode yang berkembang saat ini adalah dengan inseminasi buatan. Sebelum pembuahan, sperma yang dihasilkan dari masturbasi atau coitus interuptus, dipisahkan di laboratorium. Sperma ini kemudian dimasukkan ke dalam tabung khusus yang sudah diisi dengan tiga lapisan serum albumin dengan kadar kekentalan yang berbeda. Serum albumin adalah salah satu unsur dari darah manusia.

Perlahan-lahan sperma Y yang lebih cepat dan gesit akan mencapai lapisan paling bawah. Sedangkan sperma X akan mencapai lapisan tengah, karena gerakannya lebih lamban. Lalu, sperma yang menempati lapisan paling bawah (sperma Y) disedot keluar. Sperma yang mencapai lapisan ini merupakan kualitas unggul.

Sementara untuk memisahkan sperma-sperma X digunakan tabung dengan lubang kecil yang digantungkan di atas alat penampung dan diisi dengan cairan kental (gel). Sperma Y akan tertahan karena ketegangan permukaan. Sperma X yang lebih berat dan besar berusaha menembus cairan kental itu menuju tempat penampungan.

Usai pemisahan, sperma-sperma itu akan disuntikkan ke dalam rahim. Bertepatan dengan saat terjadi ovulasi, yang sudah diperkirakan oleh dokter. Proses pemisahan dilakukan oleh ahli andrologi, sedangkan penyuntikannya dilakukan oleh dokter kandungan.

Proses dari pemisahan sampai kemudian disuntikkan ke dalam rahim, hanya berlangsung selama 1,5 - 2 jam saja. Proses ini s angat cepat, karena harus memperhitungkan mutu sperma.

Sebagai catatan, sperma hanya bertahan hidup di luar selama 4-5 jam saja. Sedangkan jika terjadi pembuahan alamiah, sperma mampu bertahan hidup selama 10 jam di dalam rahim wanita.

Sayangnya metode ini pun tak menjamin keberhasilan mutlak. Hanya memberi jaminan keberhasilan 80 persen untuk bayi laki-laki dan 70 persen untuk bayi perempuan.

Nah, buat pasangan yang memang menginginkan pengendalian jenis kelamin anak, bisa berkonsultasi dengan ahli andrologi yang umumnya dimiliki rumah sakit bersalin. Untuk lebih jelasnya Anda bisa menanyakan hal ini kepada dokter kandungan yang menangani Anda. Setidaknya, dengan perencanaan yang matang, apa yang menjadi harapan suami-istri bisa terwujud.

Tentu saja ketidakberhasilan tidak harus berakhir dengan saling menyalahkan. Toh, manusia hanya boleh merencanakan tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Selamat mencoba !

Ditulis oleh : Dr. H. ANANDIA YUSKA, SpOG
Contact : 0811613210 / 021-99790123
Email : anandia_yuska@yahoo.com
Sumber : dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar